:variasi amukti palapa
dan layar badai. menuju matahari terbit dan terbenam
ke laut paling dalam. sedalam titah menyatukan angin dan pulau-pulau
yang dikendarai raja-raja, dengan seribu tahta dan mahkota.
juga nujuman buah maja yang tumbuh di setiap mimpinya.
dan air hujan menjadi begitu anyir. bulan kesepian mengitari
setiap persinggahan, pertarungan dan kemenangan.
“jangan pulang Mada, sebelum kausatukan setiap selat
dan kautancapkan bendera di semenanjung”
teruslah menabuh gendang, sampai burung-burung
tertundukkan peluit gading, bau kemenyan dan mendung
sepanjang pelayaran. sauh yang tertancap mulai tumbuh menjadi
ikan-ikan dan berharap mengaramkan perahumu.
di samudera paling jauh, hingga matahari benar-benar terbenam
dan sumpahmu kian lebam, kenangan pada kampung halaman
hutan-hutan maja yang merimbun dendam.
pulanglah Mada, rempahmu telah menua.
mengelupas dari lipatan peta nusantara, setelah beribu purnama
melalimkan sejarah. di prasasti-prasasti
yang kaulayari dengan delapan angin, yang berhulu
di rahim ibumu
Bogor, 2006