beberapa batang bakau mulai tumbuh di celah jemari
anak-anak yang tertiup seribu cemas. tentang abrasi dan tsunami
yang biasa datang tiba-tiba, tanpa salam, dan seakan abadi.
cuaca berjatuhan serupa kenduri di pagi hari
setelah azan subuh menjadi begitu bergetar
dan matahari terus saja terbit menjauhi fajar yang memar
2.
sawah-sawah tumbuh mengikuti irama bukit dan lembah
menguning di antara lekuk pelangi dan zikir petani
yang setia menunggu musim panen. meskipun resah
selalu menghantui harga gabah
dan keringatnya mengembun di balik gubuk-gubuk tua.
pematang dan siulan burung-burung
mengintai dari celah jantungnya yang murung.
yang setia menanti musim hujan, aliran irigasi
sebab sungai-sungai telah bercampur sampah industri
mengering seperti aroma debu di serambi
tempat kita biasa menyeruput segelas kopi, setiap pagi
setiap nasib kita tergadai
3.
aku mulai tertarik mencumbui hutan perawan, sebelum api
semakin terbakar birahi. dan mendangkalkan hasratku untuk menyemai
menjadi taman-taman paling asri. sepanjang pegunungan dan rawa-rawa
yang memberiku kesejukan dan hangatnya percintaan.
hujau rimba dan aroma lumpur semakin luntur, setelah semak belukar tertidur
di ranjang empuk serpihan gergaji, mengantarkan kepada perjalanan
paling hening, ke dunia paling asing.
di batu-batu, kutemukan suara orang-orang menanam risau
musim kemarau. hingga angin menjadi berlumut,
menghijaukan celah mata air, gumpalan awan, doa-doa hujan.
juga kabut asap, setelah ritual pembakaran hutan-hutan, lahan-lahan.
dan orang-orang rimba terus saja memainkan seruling
sampai merinding. iramanya beku, serupa tanda di altar dan batu-batu
huruf puisi paling sunyi.
4.
selesai juga puisiku, setelah melewati pantai, sawah, lembah
dan terdampar di hutan. aku ingin berlayar ke muara, melalui sungai-sungai
yang berhulu di tubuhku. mengayuh seribu cerita yang akan kukaramkan
ke laut paling dalam. agar abadi, seribu tahun lagi.
Bogor, 2006