: nyanyian suku terasing
sekayuh puisi kembali melayari malamku, purnama kelabu
gemerlap imaji terasa hanyut dalam dekapan kabut
pelukan maut, dendang sumbang di muara yang tiba-tiba menjadi begitu tawar
dan laut kembali mengubur kisah anyir tentang hutan sialang,
anak-anak yang tumbuh dari celah kulit kayu, bersusu getah enau
kepada siapa harus kunyanyikan sajak risau?
atau kasidah dan gurindam mesti menanggung getar
resah melingkar hingga dada terasa memar
puisiku berkabung di tanah lempung, bulan terkurung debu
seperti angin september yang berbatu
di kepala kita, serupa tanda dari gerak makna usai kenduri
yang menghidangkan sebabak randai* paling sunyi
aku terus bergumam sambil memanggang impian
di tungku yang membakar kampung halaman
hingga menyisakan arang di muka kita
menyembulkan asap di benak kita
berkarat, terjerat rerimbun duka
barangkali di sini telah tercatat hikayat lama
terbenam dalam sungai atau danau, malam-malam igau
tersengat pipa-pipa dan luka meranti di dangau
hingga keringat sakai dan getah petalangan menjadi begitu berkilau
karena lebam karena dendam
siapa yang bertasbih di balik kabut?
meratapi nasib tertawan di balik lipatan kayu lapis
yang terlanjur tergadai mesin-mesin industri, kapal-kapal tongkang
dan membuang tinja ke lambung kita
kami serupa bandar-bandar tua kehilangan pancang
akankah luka lama kembali mengaga, sebelum tercerabut dari akar moyang?
terbuang di kampung sendiri, sampai mati
tapi kami tak akan kalah, tak akan punah!
Pekanbaru, 2006 *Randai: teater rakyat dari Riau berunsur nyanyian, tarian, dialog dan diiringi musik yang dimainkan di lapangan terbuka dengan tema kisah-kisah rakyat.