| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Tuesday, March 20, 2007
hujan memuntahkan rinai sunyi. seperti notasi tubuhmu
yang muncul dari pendaran lampu-lampu
saat lekukan bukit begitu saja kudekap
sambil menciumi aroma lembah
tanah basah menimbun celah tubuhku
malam menjadi ganjil

kureguk hangatnya rempah. bulan gelisah oleh angin
yang menerbangkan jarum-jarum masa lalu
lewat deru kendaraan dan asap pembakaran
sampai alamat menuju rumahmu
hilang di tikungan yang panjang

dua kelok lagi, barangkali kau sembunyi
sambil menikmati lolongan anjing
di halaman-halaman puisi yang kautaburkan
sehabis pesta ulang tahun
dan aku masih setia memahat batu nisan
entah sampai kapan

kesendirian membuatku hanyut. dalam putaran jarum jam
yang suaranya merajam. sisa ciuman tahun lalu
tiba-tiba terlepas saat wajahmu meranggas
dari bibirku yang ngilu. setelah menempuh perjalanan
ke ribuan bukit paling kelam.

Bogor, 2006