| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Tuesday, March 20, 2007
kulihat sorot matamu lebih redup dari lampu-lampu yang berjajar menuju hulu
seperti sebuah lukisan panjang. terpajang di bantaran sungai, tempat gadis-gadis
metropolis mandi sambil menanggalkan selendang di tiang-tiang listrik
berharap jaka tarub mencurinya, hingga lupa jalan pulang ke negeri mimpi
yang berjarak dua tikungan dari pos ronda. tiba-tiba aku ingin mengabadikan malam
dalam telepon genggam, dalam ruang paling dalam.

tak perlu lagi mencurigai desir angin. atau mentertawai jejak kaki
yang terlanjur membekas di perempatan jalan, tempat engkau biasa menungguku
sambil menyumpahi segelas kopi. setiap pagi, setiap aku menjanjikan
puisi dan menyeruput madu yang meleleh dari pori-pori tubuhmu
sebelum kalender dengan angka-angka ganjil itu luruh
terbawa musim dingin yang membalut separuh wajahmu

di sebuah tanah lapang, yang memutar dan memanjang
debu-debu mengemasi ingatanmu: tentang kampung halaman, musim banjir
juga aroma nostalgia sepanjang trotoar yang ditumbuhi penjual jagung bakar
sampai dering telepon menjadi sepi. seperti suara hujan di halaman pertama
kisah cinta yang tertunda. tanpa ikatan dan rencana-rencana
yang selalu memenjarakan setiap impian

jemarimu meremang, mengikuti irama tanjakan
dan sorot matamu membentur tebing-tebing penuh lukisan dari asap pembakaran
yang tersusun dengan rapi. serapi aku merahasiakan setiap pertemuan
hingga jalan panjang itu hanya menyisakan jelaga yang tersangkut
di tikungan tempat kau terakhir membakar sapu tangan

Bandung, 2006