dari lembah aku melihat tubuhmu dikerumuni pepohonan
dengan akar-akarnya yang menancap di dasar kecantikan
tak ada retakan, apalagi reruntuhan yang menggelinding serupa jerawat
dan siulan burung-burung semakin menyembulkan dua biji mahkota
yang tumbuh setiap matahari terbenam. setiap makan malam
menghidangkan secangkir ciuman paling dalam
sampai menyisakan kenangan di langit dan jalan setapak
yang menuntunku ke jurang paling apak
sebuah tingkungan, tanpa tanda dan rerambu menebarkan
aroma tubuhmu: kembang kenanga dan hasrat purba
di kilometer-kilometer yang kulalui dengan sebuah puisi
paling sunyi. hingga nafas keheningan menjadi deru angin
menghantarkan sorot matamu ke lembah-lembah tempatku
mengabadikan resah. hingga musim hujan semakin menenggelamkan
wajahmu ke celah bebatuan
aku akan kembali menemukan dirimu, sendirian
ribuan tahun kemudian, setelah bereinkarnasi menjadi burung-burung
yang memagut serpihan masa lalu. aku tahu, kau pasti akan menenggelamkan paruhku di celah-celah bukit itu, sambil menagih janji
yang terlanjur terucap seperti sumpah para datu
Bogor, 2006