| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Tuesday, January 09, 2007

Bulan Menawan di Keratuan

petang terpajang di tanjungkarang
di langitnya yang ditumbuhi burung-burung
bersarang di pantai, di teluk lampung
ketika nelayan bersiul menandai batas kampung
ah, dua kayuh lagi biduknya sampai ke tepi

dua kayuh lagi melewati pantai
menjaring pasir putih dan ombak
merambati cahaya bulan
yang menawan di keratuan

bacalah silsilah para pangeran
yang menandai setiap jejak sejarah
di abad lampau, kampung balaw
dan beribu cerita yang terpampang di taman
sepanjang kedamaian

pulanglah muli
sebab di kotamu cahaya bulan menjadi puisi
dan kunang-kunang menari
menghibur para leluhur
yang tak pernah terkubur

orang-orang datang
menyaksikan riwayat moyangmu
yang terukir di lamban gedung
duduklah muli
sambil menenun tapis
menjala para turis

Juli 2006


Tunggu Aku di Bakauheni

kutunggu ceritamu di bakauheni
setelah kurapatkan puisi di pulaumu
agar aku dapat bersimpuh di puncak siger
sambil bersiul kepada laut dan deru ombaknya
yang tertawan di cadikku

dermaga itu telah menatah perahuku
di selat dan ramai anak-anak ompung silamponga
bersampan kepingan logam
yang tersangkut legam bibirnya
barangkali, kalian telah ditakdirkan seteguh rajabasa
setegar tebing-tebing karang

“ini tanah kami, sang bumi ruwa jurai
sutera kami, seluas laut dan ngarai”

katamu, sambil memainkan cetik
di serambi menghadap ke pantai
senja itu tiba-tiba menggarami langitku
“datanglah, setiap tahun setiap kami berpesta
di menara krakatau
mengenang moyang kami mengabadikan kisah
di kakinya, dan tepiannya yang mempesona”

tunggu aku di bakauheni
setelah kurapatkan tubuh di dermaga
tempat orang-orang mengayuh cerita
mengaramkan luka
dan melayari masa depannya

“datanglah, lihat kami memainkan sekuraan
yang nyaris hilang dari ingatan”

ceritamu seperti paradinei
yang bertemu puisiku
serupa dua kutub dua pulau
yang menyatu
setelah sekian lama terpisah
terbelah selat dan kisah

Juli 2006


Menari di Perkampungan Gajah

way kambas, lilitlah tubuhku
dengan belalaimu
sebab seribu gajah masih bersemayam
di jantungku
yang menjelma hutan-hutan
dan ladang
seperti gubuk masa kecilku

anak-anak, naiklah ke punggungnya
sambil menyemai sungai-sungai
alirkan hingga ngarai tubuhmu
agar aroma kampung halaman
bersemi di hatimu

dusun itu, kampung moyangmu
seribu gajah masih setia
menunggui hutan dan makam
anak-anak, menarilah
sambil mengungkap rahasia kampung
di bukit-bukit yang lama kita tinggalkan
sebab belulang leluhurmu
masih tertanam di sana
bersama reruntuhan silsilah

way kambas, lilitlah tubuhku
dengan belalaimu
sebab seribu gajah masih bersafari
di nadiku

Juli 2006


LUKISAN HUTAN DI ATAS PERAPIAN

Malam ini aku menemukan reruntuhan airmata
Dan sepenggal dongeng tentang masa kanakku di tengah belantara

Sebuah lukisan di perkampungan petani berhias hutan dan aliran sungai
Semak belukar yang nanar menggores keringat beraroma sungkai
Gigil pagiku bersama embun yang menetes dari daun-daun rimbun
Tanah basah, cericit pipit dan warna sinar matahari membasuh waktu subuh
Ketika kulepas pelukan rembulan sambil menjerang air hujan

“Selamat pagi Nak! Bebaskan jantungmu dari lilitan onak”
Teriak abah sambil membelah jalan setapak
Emak menari-nari mengemasi batang-batang padi

Malam ini aku menemukan sunyi
Dan lukisan hutan di atas kanvas yang selalu muram
Tubuhku dihiasi batang-batang ilalang dan aliran sungai beraroma bangkai
Suara gergaji seperti raungan harimau besi yang siap mencabik-cabik kehidupan
Bersama anjing hutan yang menyalak di antara semak-semak berbau apak
Dan lebah yang tumbuh di sepanjang batang sialang menyusu pada kapak
Saat kabut membungkus musim kemarau yang selalu membuat galau

Malam ini aku mendendangkan gurindam kehancuran
Ketika lukisan hutan menjerit di atas perapian
Ratusan binatang lintang pukang dan jalanan kota menjadi lengang
Kegelisahan tak lebih bermakna dari sunyi yang menghiasi bahasa puisi
Kata-kata mengelupas dari keriuhan zaman yang semakin suram
Daun-daun kering, tanah retak dan pohon tumbang berguguran dari kanvas terbakar

Lalu hanyut bersama aliran mata air yang menyerupai airmata

Riau, Juli 2004