| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Friday, June 30, 2006
KAMAR PENYAIR #1

di lambungku tumbuh kata-kata, mesin ketik tua
sederet cerita seperti gerbong kereta, melaju seperti desing peluru
dan lembaran-lembaran buku bercumbu dengan mata yang sayu
secangkir kopi sebatang rokok menemani kokok ayam dari televisi tetangga
yang setiap pagi menyajikan berita mirip telenovela
sebab, keindahan bahasa telah menguap dari rahimnya

lalu, menulis lebih baik daripada menangis
atau menyumpahi sejarah dengan darah
karena tanah ini masih terlalu subur untuk dikubur
dalam sebuah sajak atau dilukis seperti sketsa
tanpa warna tanpa cinta
dan nyala lilin mengisyaratkan semesta
lengkap dengan bara dengan air mata

di sini hanya ada segelas aqua, keripik ubi
sebab lidah masih gagap dengan coca cola, spagetti
apalagi volvo yang bikin bising suara radio
hei, selarik puisi telah selesai
namun di luar tetap saja sunyi

Pekanbaru, November 2004



KAMAR PENYAIR #2

good morning, pagi masih kering
pekerja kebun menyapa gulma yang tumbuh di ketiaknya
di depan jendela, embun membasuh kata-kata
yang menyelinap di dalam mimpiku semalam
seperti grafiti di dinding kayu
yang mulai lapuk dan berlumut
ah, itu laron atau semut, atau orang-orang yang bersujud?

ilalang tak pernah menanggalkan kenangan
di ladang-ladang dan pekarangan
saat diksi hinggap di setiap lembaran kertas bergaris
di musim gerimis atau musim tangis
dan nyamuk berebut menyanyikan puisi
malam tadi

sisa teh celup tetap hening
dalam cangkir yang tiba-tiba seperti bersayap
kamar tetap senyap, alfabet bercengkerama
bersetubuh dan mungkin mengadu domba
setiap bahasa yang lahir menjadi cinta
air mata atau luka

Kuansing, November 2004



TENTANG KOTA YANG BERDEBU
––eska

singgahlah ke kotaku, katamu
sambil membuka lembaran peta dan boneka barbie
masih saja kau simpan dalam buku harian bergambar crayon shincan
lalu kau pun mengemasi waktu senja, dan memasukkan lanskap
dalam koper. tak lupa doa-doa dari bunda kau tulis seperti sebuah cerita pendek
dan bahasa kanakmu, tersangkut di mulut gang dekat perbatasan

di kotamu pipa-pipa tumbuh seperti cendawan
kadang seperti belulang, atau garis tangan yang memanjang menyilang
dan debu-debu itu, seperti salju di musim kemarau
memenuhi jalan dan bangku taman
yang selalu saja terisi reruntuhan daun-daun
atau ceceran tanah timbun

kemudian kilometer-kilometer yang kulalui
menggelinding begitu saja, sebab jalanan tak begitu rata
untuk menggadaikan kantuk di antara ruko-ruko
yang lebih mirip tumpukan kardus dan batu bata
atau gerbong kereta

nduk, roda ini tak cukup untuk mengitari setiap lorong
kedai kopi, hotel melati, kaki lima, pasar malam
juga beberapa bagian cerita kelam
yang selalu mewarnai setiap kota sebelum menjadi dewasa
dan lebih bermakna

Duri, November 2004