GRAFITI BUKIT PUISIaku lupa mematri namaku di bukit-bukit itu
sebuah kolase, namamu juga
dan arca-arca yang kita bawa sebagai pelengkap minum kopi
menjadi begitu berlumut di batu-batu
di sungai yang mengalir dari liang tubuh kita
jembatan itu, di bawahnya anak-anak belajar memetik buih
mungkin seseorang telah membacanya
entah kapan, di kafe, gazebo
dan lorong-lorong tempat kita melukis
atau menulis tanda. sebab di tanganku,
tidak ada kata yang bisa menandai
jalan hidupku, di bukit itu, sampai ke hulu
akhirnya, puisi itu juga
memenjarakan kita sepanjang ngarai
hingga lupa berapa kata yang tumbuh dan terlipat
di gubuk-gubuk tua, tempat kita biasa singgah
sekedar mengabadikan resah
Bogor, Februari 2006
KADO ULANG TAHUNdi depan lilin usiaku yang menyala keperakan
tuhan mulai meniupkan kematian
di jantungku.
...... yang payau
Bogor, Maret 2006
BUITENZORG masih membekas jejak tiga puluh dua ekor kuda
membelah batavia, dengan pecut di kepala
malam dimeriahkan wangi dupa
dan bulan mengambang sepanjang ciliwung
seperti sekerat roti di stasiun
mungkin, para pengemis
terus mengutuki daendels yang tertawan
bersama ratusan rusa di istana
sambil sesekali bersiul menyanyikan
dua komposisi vivaldi yang tercemar
bubuk mesiu
beberapa serdadu,
setia menunggui bintang jatuh satu-satu
sebelum disambar parade burung hantu
yang bersarang di taman kencana, kebun raya
dan setiap celah rambut klimis, louis
malam semakin dingin
dua pertiga garnizun kompeni mengepung ranjangku
dan bedil menyalak. darah membanjiri buku sejarah
sepanjang seribu halaman
di atas dua belas ribu potong kepala
Bogor, 2005
HUJAN DATANG PAGI SEKALIaku baru selesai menghisap candu dari kantukku
sepiring cuaca menyelinap
dan kembang-kembang layu di tempayan,
setelah hujan bercerita semalaman
sambil sesekali mampir ke meja makan
menenggak segelas sajak
air tergenang di ceruk tubuhmu
sebelum mengalir di kanal-kanal
bersama air mata, dengan asin yang selalu sama
dan aku melayarinya pagi-pagi sekali
sebelum urat lambungku bergemuruh
seperti ombak di laut merah
bersama sampan terbakar, aku terus berlayar ke tepian
menjauhi pulaumu yang terus tenggelam
dalam badai. sebuah sekoci, seekor kelinci
dan kembang api menemaniku
mencari matahari yang tiada hulunya
Bogor, Februri 2006
NOCTURNO sayapku mulai mengelupas
dari rahim rembulan yang terhempas
dalam lingkaran malam
sebelum bertemu dengan malammu
yang bisu
aku menjadi begitu sunyi
dalam gerimis, secangkir kopi
dan warna-warna dari jendela
berderit tanpa jeda
hinggap dan mengendap
aku menaburkan ruhku seperti kembang api
kepada bintang-bintang
di ruang tamu
sambil menunggu burung gagak
menancapkan paruh di depan pintu
aku pulang sayang,
bercintalah sampai tandus
darah masih bermuara di nadi kita yang ngilu
sebab rindu telah lama membatu
Bogor, Januari 2006
KOLASEsejenak aku teringat shakespeare
sebelum kembali hanyut dalam gending jaipong
dan kakilima sepanjang rel kereta
yang menghadirkan komposisi alla turca
dari abad jenaka
seperti ababil mengusung sebuah kota
aku tandai peta kembara
yang menyelinap di balik jembatan layang
dan selembar katepe yang terbuang
sehabis musim kawin tahun lalu
anak-anak mulai menyukai musik klasik
dan larik-larik puisi, bait-bait elegi
sebagai lagu wajib sepanjang zaman
sepanjang siang
sepanjang malam
Jakarta, Januari 2006
NOTASI HUJANdari balik bukit meranum, hujan turun
mencumbui air mata tergenang
di bangku taman dan sungai sepanjang boulevard
yang tiba-tiba berubah asin,
mengalir ke papan-papan reklame
sebelum bermuara di halte
tempiasnya merasuk ke dalam lambung
pengemis yang setia menunggui stasiun tua,
dan setiap gerbong kereta yang menjanjikan puisi
di malam-malam asing
ketika dingin dan hening
lampu-lampu hinggap di kepala, anak-anak
yang mengamen sambil menyalakan lilin
di jantungnya. tanpa korek api
tanpa cahaya, tanpa nenek seperti dalam cerita andersen
yang mengajak pergi ke negeri yang hangat.
sebab salju selalu mencair di awal januari
dan menggenangi kota ini
lalu plaza-plaza semakin asing
seperti onggokan sampah yang tak pernah kering
tergerus roda kereta dan hujan
setiap senja,
setiap makan malam selalu tertunda
Bogor, Januari 2006