SKETSA NEGERI DALAM SECANGKIR KOPI : riau yang galaumalam membawaku ke pucuk kelam tanpa rembulan
lalu mengirimiku sebaris gurindam: beraroma elegi
selalu saja kantukku berkabut
setiap cuaca meriwayatkan mendung di ujung tahun yang murung
dan kata-kata tercemar lentik api yang singgah di halaman-halaman
lalu tumbuh sebagai cendawan dalam secangkir kopi
di negeri tanpa lazuardi––tanpa puisi
(konon dalam sebuah hikayat: anak-anak menyusu pada petuah melayu
ketika doa-doa masih mengalirkan airmata)
tapi kini perjalanan menjadi rakaat-rakaat panjang yang melelahkan
ketika kegelisahan tak lebih bermakna dari pada pantun kanak-kanak
beriring adzan dengan irama yang mengambang
masihkah batu-batu selalu tumbuh di setiap gerak tubuh kita?
saat menterjemahkan amuk dengan tarian-tarian memabukkan
kemudian, dalam secangkir kopi kutemukan sebuah kota
dan kampung yang merambat pelan-pelan
sementara ladang minyak tumbuh subur dalam dengkur panjang
yang mengental seperti jantung yang ditumbuhi pipa-pipa
dan bangkai rimba yang membuat merah mata tetangga
(secangkir kopi tersebut diseduh bersama darah dan airmata
yang mengalir gemulai pada sebuah musim tak bernama)
selalu saja kopi yang kuseduh menciptakan sketsa-sketsa
dari negeri-negeri tanpa warna
Pekanbaru, Oktober 2004
OPERA SENJAkita telah melewati tikungan
dan melukis senja sepanjang jalan
aroma pasir, gemuruh ombak
berhasil menyibak jarak
dari sungai hingga ke pantai
sebelum semua menyatu di ngarai
kita hanyut dalam dekapan laut
dan membaca buih sepanjang langkah
seperti bahasa purba sepasang penyu
yang risau menerjemahkan rindu
di karang dan batu-batu
kita tegak menahan dingin angin
memandang rembulan pucat
dalam pelukan cuaca malam keramat
gigil tubuh kita memainkan irama
lalu pulang sebelum malam menerkam
Yogyakarta, Desember 2004
JALAN KE PARANGTRITIS: raudal tanjung banuaaha, sampai juga aku ke jogja
setelah seharian terkurung dalam kereta
rel-rel tua dan segerbong cerita
dijajakan pengamen, pedagang asongan
lalu lalang copet yang kehilangan target
di antara pengemis bermodal tangis
tiba di stasiun, aku kehilangan peta
sedikit pulsa masih bisa melahirkan beberapa kata
sebab malam di sini, tak begitu kelam
kata mbok penjual gudeg ; saya ndak usah cemas
apa lagi bawa parang agar terlihat garang
di bawah bulan, aku menunggu jemputan
seorang kawan datang mengendarai puisi
lalu melintasi berlembar jalan menuju selatan
“ini jalan ke parangtritis, setiap hari dilalui turis”
dan roda terus saja berputar menembus jalan lingkar
di ujung gang, tuan rumah menyapa ramah
meskipun detak jam telah menandai mimpi
segelas sajak terhidang, mengawali perjalanan panjang
“maaf saya merepotkan tuan,
ini perjamuan yang menyenangkan”
kemudian, aku kembali mengikuti arah angin
dalam keremangan senja yang dingin
Yogyakarta, Desember 2004
MALAM DI SELAT SUNDA
selat itu hanya berhias bulan sabit
yang terjepit di ketiak malam
tak ada mimpi yang sempurna
karena kapal merangkak menuju merak
membawa cerita para perantau yang galau
hari menjelang jam dua pagi
anak-anak laut mungkin masih hanyut dalam selimut
dari sisa kepingan uang logam
setelah tersangkut di bibirnya yang legam
“saya dulu penyelam
pernah terjebak di laut dalam
tapi sekarang menjadi pengelana
karena hidup tak menjanjikan apa-apa”
lelaki tua menyapa dan menyodorkan cerita
tentang masa muda di laut banda
selat itu pelan-pelan menyempit
saat kapal mencumbui dermaga
lalu memuntahkan apa saja
dari lambungnya yang berkarat
sebab beban terasa berat
Bakauheni, Desember 2004