| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Friday, June 30, 2006

CINTAMU MENJELMA MENJADI IKAN

kita telah melupakan senja itu
di tubuhmu air hujan merontokkan ingatan-ingatan
tentang lanskap di batu-batu: “mungkin, katamu
kita telah ditakdirkan menjadi angin,
yang sirna dan dingin”
toh, jalan lingkar itu masih memetakan tubuhmu
di bawah daun-daun waru, sebelum pasir itu menghapus nama kita
dari jalan pulang; yang memanjang menyilang

rinduku telah membukit
sepanjang danau, yang terhempas cerita murung
dan mengunci bibir kita sebelum ciuman terakhir
terasa begitu beracun.
lalu tempias hujan mengabarkan kepadaku
bahwa di hulu, cintamu menjelma menjadi ikan
dan berenang menjauhi lubukku yang mulai ditumbuhi ilalang.
di muara, barangkali kau semakin terpesona
dengan laut dan deru ombaknya
yang bergigi dan berduri

sekali waktu, kau maknai tanda
sambil menikmati gugusan salju di utara
sebab aku terlalu setia menikmati hutan tropis
yang menghanyutkanku kepada cuaca musim gugur
benar katamu: “kita ditakdirkan menjadi angin
yang terhempas ke segala penjuru
sebab cinta kita begitu dingin
dan beku...”

Bogor, Maret 2006

POTRET CINDERELLA DAN TUKANG SOL

sepanjang boulevard, dia selalu berkaca
pada anak-anak yang menciumi hujan
lalu memetik rambutnya satu-satu,
seperti daun marpel
“di taman dan sepanjang kanal, cintaku
ingin kupasangkan sepenggal paruku
di kakimu, sebelum kau campakkan jemariku yang ngilu
ketika kurajut luka di hatimu”

Jakarta, April 2006

HISTOGRAF

peluhku menyisakan jejak di setiap stasiun
yang kau tandai ,
ketika kau layari sungaimu tanpa jejak
“ah, bidukku tercerabut dari tempuling
dan menjauhkan ”
menuju samudera paling asing

ya, katamu, tubuhku telah mengembara
ke segala penjuru paling durjana!

Jakarta, April 2006

ENSIKLOPEDI 2

aku masih setia mengumpulkan
cintamu yang tercampak di kanal-kanal
dengan perahuku
sebelum memuntahkan semua mimpi kita
tentang pulau, gunung-gunung
dan penjara

desah nafasmu berurutan
seperti abjad di halaman-halaman
yang membekas sepanjang tubuhku
sebelum bedil menyalak
dari pucuk-pucuk kamboja
yang berakar di atas pusara dan wangi dupa

kini aroma pasir mulai melucuti
almanak dan jarum kompas
di meja, tempat kau terbiasa menancapkan sauh
sambil menyeduh puisi dan cerita
setelah jam duabelas malam

lain kali, aku akan menyimpan cintamu
di balik lipatan buku-buku
dan kususun berdasarkan catatan
yang terserak sejak dari hulu matamu
hingga ke dasar kelaminmu yang payau

Bogor, Desember 2005